"Selembut itulah belaian wanita renta yang sedari kecil membelaiku. Tak dapat kulupa. Mungkin hanya itu kenangan berjuta arti," ujarnya lirih kepadaku saat Ia mulai bertutur tentang kisahnya. Kisah yang mungkin bisa terjadi pada siapa saja, termasuk dirimu - mungkin.
Kara, begitulah nama yang tertera di atas map biru lusuh. Entah sudah berapa ratus tangan map itu berpindah tangan. Ia masih memandangi map itu sesekali sambil terus melihat ke arah datangnya bus yang sedari tadi ia tunggu. Berjalan lunglai, setengah menyeret langkah memasuki bus kota yang penuh sesak. Ramainya Ibukota pun seakan sunyi di telinganya.
Ia menghempaskan tubuhnya ke atas kasur keras yang ia miliki. Letih, namun sambil memejamkan mata sesekali ia tersenyum. Memandangi foto wanita renta itu seakan memberinya hiburan sekaligus harapan. "Besok matahari masih bersinar lagi," gumamnya.
Dalam doa tak lupa ia minta pengampunan bagi wanita renta yang kini telah bersama milyaran jiwa lainnya menanti hari penghakiman. Ia belum menyerah. Meski dikepung ribuan beton menjulang. Ia sudah bertekad. Ia rapihkan mukena, lalu berganti pakaian beranjak ke peraduan.
Kara, begitulah nama yang tertera di atas map biru lusuh. Entah sudah berapa ratus tangan map itu berpindah tangan. Ia masih memandangi map itu sesekali sambil terus melihat ke arah datangnya bus yang sedari tadi ia tunggu. Berjalan lunglai, setengah menyeret langkah memasuki bus kota yang penuh sesak. Ramainya Ibukota pun seakan sunyi di telinganya.
Ia menghempaskan tubuhnya ke atas kasur keras yang ia miliki. Letih, namun sambil memejamkan mata sesekali ia tersenyum. Memandangi foto wanita renta itu seakan memberinya hiburan sekaligus harapan. "Besok matahari masih bersinar lagi," gumamnya.
Dalam doa tak lupa ia minta pengampunan bagi wanita renta yang kini telah bersama milyaran jiwa lainnya menanti hari penghakiman. Ia belum menyerah. Meski dikepung ribuan beton menjulang. Ia sudah bertekad. Ia rapihkan mukena, lalu berganti pakaian beranjak ke peraduan.
Comments
Post a Comment