Skip to main content

Sebatang Kara

"Selembut itulah belaian wanita renta yang sedari kecil membelaiku. Tak dapat kulupa. Mungkin hanya itu kenangan berjuta arti," ujarnya lirih kepadaku saat Ia mulai bertutur tentang kisahnya. Kisah yang mungkin bisa terjadi pada siapa saja, termasuk dirimu - mungkin.

Kara, begitulah nama yang tertera di atas map biru lusuh. Entah sudah berapa ratus tangan map itu berpindah tangan. Ia masih memandangi map itu sesekali sambil terus melihat ke arah datangnya bus yang sedari tadi ia tunggu. Berjalan lunglai, setengah menyeret langkah memasuki bus kota yang penuh sesak. Ramainya Ibukota pun seakan sunyi di telinganya.

Ia menghempaskan tubuhnya ke atas kasur keras yang ia miliki. Letih, namun sambil memejamkan mata sesekali ia tersenyum. Memandangi foto wanita renta itu seakan memberinya hiburan sekaligus harapan. "Besok matahari masih bersinar lagi," gumamnya.

Dalam doa tak lupa ia minta pengampunan bagi wanita renta yang kini telah bersama milyaran jiwa lainnya menanti hari penghakiman. Ia belum menyerah. Meski dikepung ribuan beton menjulang. Ia sudah bertekad. Ia rapihkan mukena, lalu berganti pakaian beranjak ke peraduan.

Comments

Popular posts from this blog

Hujan pun Berhenti

Entah mulai kapan hujan ini turun. Rasanya aku pun tak peduli. Kaki ini rasanya tak mau berhenti. Entahlah, sudah berapa jam pula aku berjalan. Suara deras itu masih terdengar. Menyisakan dingin yang menusuk tulang. Tak tahu berapa lama lagi tubuh ini sanggup menahannya. Dingin ini telah memaksaku berhenti. Tetes sisa hujan itu masih saja menitik, satu per satu dari ujung-ujung daun. Iramanya makin menyayat saja. Entah mulai kapan, hujan tak lagi indah. Aromanya yang bercampur tanah ini pun tak lagi menyenangkan. Menyesakkan. Adakah kesempatan itu masih ada? Adakah aku mampu bertahan? perbekalan yang tersisa hanya roti yang telah separuh dihabiskan tadi siang. Tak ada yang lainnya. Kakiku mulai mati rasa, luka itu tak lagi aku rasakan perihnya. Sekarang, mau bergerak pun rasanya tak mungkin. Inikah akhir itu? Sejenak terbayang senyum mu di balik samar temaram senja. Senyum yang ingin kumiliki seutuhnya. Senyum yang selalu ingin ku jaga. Namun begitu salah.  Pagi...

Pasar

Entah apa sebenarnya yang terjadi. Pagi itu. Seperti biasa, pengelana mulai merapikan peralatannya. Tenda dia rapikan, tungku telah ia bungkus. Sisa api semalam juga telah dipadamkannya. Tidak ia sisakan  sedikitpun sampah di tempat ia berkemah. Semua telah rapi. Dinaikkannya ke punggung onta semua barang dan perbekalannya. Hari ini ia akan ke kota di pinggir padang pasir itu. Ia hendak membeli perbekalan untuk mencapai kota berikutnya. Namun, karena dinar yang dimilikinya pun tinggal sedikit, dan barang untuk dibarter juga tidak ada. Ia pun memutuskan untuk tinggal sedikit lebih lama di kota itu. Rencananya ia akan bekerja. Dicarinya pasar. Ia tidak terlalu sulit untuk menemukan pasar. Karena di kota itu, pasarnya cukup besar dan merupakan tempat bertemunya pedagang dari negeri seberang. Kecakapan pengelana dalam menghitung dan mencatat membuatnya mudah mendapat pekerjaan. Kini ia resmi menjadi asisten juru catat pedagang domba. Ia pun tampak terbiasa dengan rutinitas barunya ...

Himawari

Biarkan basah hujan turun Lepaskan aromanya, menguar Bersama rinainya Merekam jejak rindu Biarkan aku melaluinya Hamparan hatimu yang tak tahu di mana Harapku kan sampai Ketika Himawari sambut sang surya (Re)