Sementara hari – hari berlalu, pemuda itu masih saja menunggui tumpukan karung – karung jagung yang telah terisi penuh untuk ia angkut ke atas truk. Matahari menggelincir sudah, pukul 2 siang, truk itu belum juga datang. Pemuda itu bersama kuli panggul lainnya nampak resah, candaan mereka pun mulai hambar berganti sunyi. Panasnya gudang di area pelabuhan itu beradu dengan pasir dan angin yang sesekali menyejukkan namun kerikilnya menampar-nampar. Drrrrrmmm.... Tot Tooot.... Truk yang ditunggu manusia pemikul itu tiba juga. Para kuli panggul yang telah berumur itu mulai mendekati karung jagung dan mulai memindahkannya satu persatu dalam bak truk tersebut hingga penuh terisi. Truk berikutnya langsung disambut dengan otot-otot cekatan para pria yang tak banyak berpikir dalam pekerjaannya. Keringat bercucuran di sekujur tubuh pemuda itu. Meski letih, ia tetap menuntaskan bagian pekerjaannya hari itu. Ia hanya diupah tak lebih dari Rp500 tiap karung yang berhasil ia naikkan dal...