Mungkin,
kenapa mungkin?
Entahlah.
Joran, mungkin dia sedang bad mood saja. Aku tak ingin mengganggunya. Seingatku
ini sudah ketiga kalinya Ia bertingkah seperti ini. Dan, aku selalu tak
mengerti apa yang ada dipikirannya. Ku rasa biar Margaret saja yang mengurus
bocah itu. Aku jadi lelah juga dibuatnya.
Siang
itu, sebelum Joran bergumam sendiri sambil menggambar di sketch book nya, aku
berencana mengajaknya ke toko buku yang satu jalan dengan rumahnya. Lalu, entah
aku salah ucap atau apa, dia jadi seperti itu.
Driiiinggg...
"Cindi,
Joran bersamamu?", kata suara diujung telpon.
"Ia,
dia kambuh sepertinya", jawabku malas.
"Oke,
aku segera ke sana", tuuut... Tuuut... Tuuut...
Sebentar
lagi Margaret datang. Mmmmmmh. Aku masih harus mengawasi bocah ini. Kuminum jus
yang sedari tadi digenggamanku.
"Joraan,
joran", gumamku.
Margaret
tiba tak lama kemudian, Ia membisikkan sesuatu pada Joran. Joran hanya
mengangguk sambil terus bergumam dan menggambar. Entah apa yang margaret
bisikkan, rasanya aku pun tak ingin tau.
"Terimakasih
Cindi, mampirlah nanti ke rumah. Tante punya cookies favoritmu", ucap
margaret sambil menggandeng tangan Joran.
"Baiklah
Tante", jawabku riang. Siapa yang sanggup menolak ajakan makan kookis
coklat Tante Margaret yang sangat lezat.
Hari
beranjak sore ketika aku menyelesaikan pembayaran atas buku-buku yang aku beli.
Yah, hasil menyisihkan uang saku dan kerja paruh waktuku di kedai paman untuk
memuaskan hasratku akan beragam bentuk sastra. Aku selalu tertarik dengan
sastra. Kali ini aku membeli buku Gibran, dan novel biografi Arrumi. Cukup lama
aku mengincar kedua buku tersebut.
Teringat
janjiku dengan Tante Margaret, Mama Joran, tentang ajakan makan cookies di
rumahnya. Aku berjalan riang sambil menyenandungkan salah satu soundtrack
favoritku, Tak Perlu Keliling Dunianya Gita Gutawa.
Sampailah
aku pada pagar hitam yang setinggi dada, rumah itu cukup memcolok dari
sekelilingnya dengan desain kotak bak balok kayu berukuran raksasa. Catnya yang
cerah seakan membuat siapapun yang melintas akan meliriknya. Ku geser pagar itu
dan masuk melalui pintu samping dekat taman.
"Hai
Cindi, sudah dapat bukunya?", tanya wanita yang seumuran dengan Ibuku dari
dalam dapurnya.
"Sudah
Te, Joran di kamar?", ujarku menimpali.
Belum
sempat Ia menjawab, Joran muncul dri dalam dapur sambil membawa cookies buatan
mamanya. Senyum Joran, kali ini lebih lebar dari biasanya. Aku selalu suka
senyum bocah ini. Meski usia kami hanya terpaut 1 tahun saja, aku selalu
menganggapnya bocah.
Sore itu,
aku habiskan hari bersama Joran dan Tante Margaret penuh canda. Hingga tak
terasa waktu telah larut, dan aku pun permisi untuk pulang. Joran, seperti
biasa, Ia mengantarku karena rumah kami hanya berjarak satu blok saja.
"Cin",
Joran memanggilku. Aku menoleh ke arahnya.
"Mmm,
tak apa. Aku balik dulu. Daaaah", tanpa sempat aku membalasnya Ia sudah
memutar arah motornya dan memacunya perlahan.
"Daaah
Joran", ujarku lirih.
(Re)
Comments
Post a Comment